x

Hari ke-2 Expo Inovasi Desa 2025: Bupati Konawe ‘Berburu’ Inovasi dari 16 Desa

waktu baca 2 menit
Sabtu, 8 Nov 2025 07:41 76 Team Redaksi

Di balik tenda-tenda sederhana Expo Inovasi Desa 2025, tersembunyi revolusi diam-diam: seorang ibu dari Desa Duriasi memperkenalkan “keripik kelor fermentasi” yang kini diekspor ke Makassar; kepala desa muda di Lalousu memamerkan aplikasi desa digital buatan sendiri; sementara petani Amesiu menunjukkan pupuk organik nano hasil riset mandiri. Dan di tengah semuanya, Bupati Konawe, Yusran Akbar, S.T., bukan sekadar berkunjung — ia mendengarkan, mencatat, bahkan membeli — karena baginya, inilah wajah asli “Konawe Bersahaja”: bukan megah, tapi mandiri, cerdas, dan berani berinovasi dari bawah.

 

Konawe, NTRI News.com —Malam itu, di area pameran Expo Inovasi Desa 2025, tak ada karpet merah — hanya terpal, tenda lipat, dan neon box sederhana. Tapi di sanalah, revolusi desa Konawe sedang berlangsung.

Hari kedua, Kamis (6/10/2025), Bupati Konawe, Yusran Akbar, S.T., kembali turun — kali ini lebih dalam. Ia menyusuri satu per satu stan dari 16 desa di tiga kecamatan: Wonggeduku, Pondidaha, dan Amonggedo. Bukan sebagai “tamu kehormatan”, tapi sebagai mitra, pendengar, dan katalisator.

“Saya tak datang untuk memberi arahan. Saya datang untuk belajar,” ujarnya, sambil memegang hasil kerajinan inovasi desa.

Di Desa Duriasi, ia terpukau oleh proses fermentasi daun kelor menjadi keripik renyah berprotein tinggi — ide brilian dari PKK setempat yang kini telah menghasilkan omzet Rp80 juta/bulan. Di Desa Lalousu, ia duduk bersila di atas tikar, mendengarkan penjelasan Kades muda tentang aplikasi desa digital yang dikembangkan hanya dengan modal open-source dan semangat kolaborasi.

Yang paling mencuri perhatian: Desa Amesiu (Pondidaha), yang tak hanya memamerkan hasil pertanian, tapi juga riset mandiri — membuat pupuk organik berbasis mikroba lokal, diproses dengan teknologi nano-encapsulation sederhana.

“Ini lebih murah 60% dari pupuk kimia, dan hasil panennya naik 30%. Kalau ini bisa direplikasi, kita bisa swasembada pupuk organik dalam 2 tahun,” kata Bupati, serius.

Ia tak hanya memberi pujian — ia bertindak.

Bagi Yusran, Expo Inovasi Desa bukan sekadar pameran — ini adalah audit hidup terhadap semangat kemandirian.

“Kalau dulu desa menunggu bantuan, sekarang desa menciptakan solusi. Itulah esensi Konawe Bersahaja: berdaya saing bukan karena gedung tinggi, tapi karena otak, hati, dan tangan yang tak pernah berhenti berkreasi.”

Dan malam itu, di bawah lampu temaram tenda pameran, Konawe membuktikan: inovasi tak butuh ibu kota — cukup butuh ruang, kepercayaan, dan pemimpin yang mau turun — bukan hanya turun tangan, tapi turun ke lapangan. JM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x