x

Idham Azis: Sang Maestro Reserse dari Kendari yang Menjadi Kapolri Tertua

waktu baca 3 menit
Kamis, 20 Nov 2025 09:55 29 Team Redaksi

Jenderal Polisi (Purn) Idham Azis (lahir 30 Januari 1963) adalah seorang purnawirawan Polri yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dari November 2019 hingga Januari 2021. Sebelumnya, ia merupakan lulusan Akpol 1988 yang sangat berpengalaman di bidang reserse, dengan jabatan puncak sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim). Idham dikenal sebagai perwira lapangan yang tangguh, dengan pengalaman penting dalam menangani konflik dan terorisme di Poso. Ia menggantikan Tito Karnavian dan pada akhir jabatannya digantikan oleh Listyo Sigit Prabowo.

Jakarta, Ntrinews.com – Sejarah Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mencatat nama Jenderal Polisi (Purn) Idham Azis sebagai seorang Kapolri yang unik. Bukan hanya karena karirnya yang cemerlang di bidang reserse, tetapi juga karena ia tercatat sebagai Kapolri tertua yang dilantik pada usia 56 tahun. Namun, di balik jabatan puncaknya, tersimpan perjalanan panjang seorang pemuda dari Kendari yang pantang menyerah. Dua kali gagal masuk Akademi Kepolisian tidak mematahkan semangatnya. Tekadnya akhirnya membawanya menjadi lulusan Akpol 1988, mengawali karier yang berpuncak pada posisi nomor satu di Polri, menggantikan sang mentor, Tito Karnavian. Ini adalah kisah tentang ketekunan, kepiawaian menyelesaikan kasus besar, dan cinta yang berawal di kampus.

Idham Azis lahir dari pasangan Abdul Azis Halik dan Tuti Pertiwi di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 30 Januari 1963. Setelah menamatkan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Kendari pada 1982, impiannya untuk mengenakan seragam biru harus tertunda. Ia dua kali gagal dalam tes masuk Akademi Kepolisian. Di tengah penantian, Idham tidak berdiam diri. Ia melanjutkan pendidikannya dengan masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo. Kegagalan bukanlah akhir baginya. Pada percobaan ketiga, tekad bulatnya akhirnya berbuah manis; ia diterima di Akpol angkatan 1988.

Di tengah kesibukannya membangun karier, Idham bertemu dengan Fitri Handari, seorang alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai empat orang anak. Uniknya, nama-nama anak mereka diselipi kata “Urane”, yang dalam bahasa Bugis berarti “anak laki-laki”. Penamaan ini mencerminkan koneksi keluarganya dengan budaya Bugis dan menunjukkan sisi personal yang dalam dari seorang pemimpin polisi.

Karier Cemerlang: Dari Medan Konflik ke Pucuk Pimpinan

Idham Azis adalah tipikal perwira yang dibesarkan oleh lapangan. Kariernya menanjak berkat kinerjanya yang gemilang, terutama di bidang reserse. Bersama Tito Karnavian dan beberapa perwira lainnya, ia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa (KLB) menjadi Komisaris Besar Polisi karena dianggap berhasil memberantas narkoba dan terorisme.

Salah satu momen penting adalah ketika ia diperintahkan untuk berangkat ke Poso pada November 2005. Di sana, ia menjadi Wakil Ketua Satgas Bareskrim Poso, mendampingi langsung Tito Karnavian, untuk mengungkap kasus mutilasi tiga gadis SMA Kristen. Pengalaman di daerah konflik seperti Poso ini membentuknya menjadi perwira yang tangguh dan berpengalaman.

Jabatan strategis pun silih berganti diembannya:

Kapolda Sulawesi Tengah (2014-2016): Memimpin penegakan hukum di daerah yang pernah menjadi medan tugasnya.

Kadiv Propam Polri (2016-2017): Memastikan profesionalisme dan integritas segenap anggota Polri.

Kapolda Metro Jaya (2017-2019): Memimpin penegakan hukum di Ibu Kota, salah satu tugas terberat dalam struktur Polri.

Kepala Bareskrim Polri (2019): Puncak karier di bidang reserse sebelum akhirnya menjadi Kapolri.

Menjadi Kapolri Tertua dan Estafet Kepemimpinan

Pada Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mengusung namanya sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Tito Karnavian. Setelah melalui fit and proper test yang disetujui secara aklamasi oleh DPR, Idham Azis resmi dilantik pada 1 November 2019.

Ia memimpin Polri dalam masa yang penuh tantangan, termasuk awal masa pandemi COVID-19. Pada Januari 2021, setelah kurang lebih 14 bulan menjabat, ia menyerahkan tongkat estafet Kapolri kepada Listyo Sigit Prabowo, mengakhiri dinasnya sebagai seorang perwira tinggi Polri. (JM)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x